Rebound

Do your best, and you'll get what is best for you

Archive for the ‘my day dreaming’ Category

Path (a facebook note)

leave a comment »

… jadi nampaknya kita sebagai manusia memang harus melakukan ikhtiar dalam mendapatkan node-node terbaik yang bisa kita dapatkan dalam path perjalanan hidup kita.

termasuk di dalamnya node-node terkait rezeki, termasuk di dalamnya terkait pasangan hidup kita. ada yang menyebut yang terakhir ini sebagai jodoh, namun saya merasa jodoh itu tidak terbatas pada hal tersebut. perkerjaan, lokasi tempat tinggal, hingga banyaknya keturunan juga menurut saya termasuk pada hal-hal yang ber’jodoh’ dengan diri manusia. berjodoh dalam artian hal-hal tersebut dapat ditemui dengan mengambil path yang tepat.

salah seorang teman saya pernah berkata

Buat apa dijodohin? Bukannya jodoh itu-

-saya lupa kata2 selanjutnya.

salah satu peribahasa di http://bit.ly/gaCRtb mengatakan

Garam di laut asam di gunung, dalam belanga bertemu jua.

dan saya pikir tentunya manusia tidak seperti garam ataupun asam yang hanya pasrah diangkut oleh makhluk lain ke dalam belanga; sepatutnya manusia bisa memilih belanga masing-masing.

salah satu status Facebook teman saya memuat

.. jodoh itu gak kemana

dan membaca status tersebut semakin menyadarkan saya bahwa jodoh memang tidak kemana-mana. kitalah yang harus kemana-mana untuk mencari dan berusaha mendapatkan jodoh itu. jika kita juga tidak kemana-mana dan kita tetap bertemu dengan jodoh kita, berarti jodoh tersebut adalah jodoh yang terdekat. tentunya ‘dekat’ di sini tidak terbatas pada koordinat di ruang 4 dimensi.

ah ya memang ketemunya ini ya mau ap..

bukankah bumi itu luas?

Written by fusuysamid

25 March, 2011 at 8:45 am

Posted in my day dreaming

Rejeki, eh?

leave a comment »

Awalnya puasa2 ngetem di dekat stand jualan martabak manis di sebuah mall. Mengamat-amati. Waah warna kuning yang sangat cantik, sama kuning di semua bagian. Tak berbelang. Seorang mbak2 penjaga stand sedang memasukkan potongan demi potongan ke dalam kotak. Tak seperti penjaja martabak kebanyakan, di sini setiap potongannya masih berbentuk seperempat lingkaran : dari sebuah martabak utuh, dilipat dua menjadi setengah lingkaran, kemudian dipotong sekali saja sama besar. Mbak2 itu tampak hati-hati sekali menata potongan itu di dalam kardus pembungkusnya, sementara bapak2 yang berada di antrian terdepan dengan muka sebal nampak telah tak sabar menunggu martabaknya selesai dikemas.

Akhirnya selesai juga. Si mbak2 mengucapkan kembali rinci pesanan si bapak (mungkin sebuah bentuk konfirmasi), kemudian menyerahkannya ke bapak tersebut.

Hmmm. Enak enak. Mau juga donk.

Masalahnya ngelirik ke daftar harga, martabak sekerdusnya seratus ribu rupiah saja @.@.

Tiba-tiba datang seorang wanita lain, gak pake ngantri, berpakaian seperti wanita-karir-baru-pulang-dari-pesta yang di pilem2 itu tuh : rok ketat, hak tinggi, warna baju agak2 mengilat gitu macam pake glitter. Eh ternyata dia membawa 2 potong martabak untuk dikomplain.

Wow ngerik kali yak, mentang2 harganya mahal, harus siap dikomplain kalo ga enak.

Si mbak2 penjaga stand melayani pengaduannya, dan menanyakan apa permasalahan kedua potong martabak tersebut. Seorang penjaga stand lainnya mengambil alih untuk melayani antrian pelanggan.

Penasaran jg, emang kenapa gt koq ampe dikomplain. Jadi aja deh ngetemnya makin deket2 situ.

Eh mbak yang jaga stand tau2 memandang ke arahku dengan pandangan mengandung kelicikan 20%. Eh berikutnya dia mengulurkan potongan martabak itu ke arahku : aku disuru ngicipin.

Eeeh jadi mau dikonfrontasi dgn third party gini, aneh kali.

Bagaimanapun tetap kuterima potongan martabak itu. Ah pisang keju. Coba segigit.

Anyep.

Owh. Ya pantes dikomplain.

Aku melihat sekeliling untuk mencari relawan tester lainnya. Ha! Ada itu cowok lagi ngetem juga. Kayaknya sama aja sama aku, dia juga cuma ngetem sambil ngiler2. Kuberikan sample itu, dan hasilnya senada : anyep.

Oi mas!‘. Tiba2 ada suara yang kukenal memanggilku. Aq menoleh dan melihat si Dimas melambai ke arahku. Nampaknya dia sedang melintas dan kebetulan melihatku.

Ooi!” balasku.

Kami pun obral-obrol layaknya teman yang baru ketemu. Gimana kabar, dimana sekarang, etc. Tak lupa kutawarin juga martabak sample itu, masih ada sisanya ini. (Koq gak abis2? Ya kan satu potong itu ekuivalen dgn setengah lingkaran, seperti telah dijelaskan di atas)

Jawaban ia sangat mengejutkan.

Aku puasa mas“. Ia pun berlalu meninggalkanku, melambaikan tangan. Lagi buru2 kayaknya.

-___________-

Lah iya yak, aku kan juga lagi puasa. Lha trus ini yang lagi dikunyah gmn kabarnya? Mesti dilepeh gitu? Tau sendiri tekstur martabak kayak gitu, nyangkut2 dimana2 di sela2 gigi. Doooh.

WC WC cari WC.

Ha itu dia. Simbol wanita dan pria berdiri bersebelahan, dipisahkan garis vertikal, dan berada dalam lingkaran. Di kirinya ada tanda panah ke kiri.

WC WC. Mesti dilepeh ini yang dimulut.

Udah di dalamnya, ada tempat dengan keran berjajar : tempat wudhu. Mulut ngemut ujung keran. Air dialirkan.

Awas malah keminum.

Setelah beberapa kali ngokop air dan kumur2, dah lumayan bersih kerasanya. Hff… Nasib..nasib.. Coba udah abis nyampe perut semua baru inget kalo puasa (ngarep). Tapi gak apa apalah. Itung2 rejeki pas puasa, icip2 martabak mahal pas puasa. Gratis pulak. Walopun yang diicip sampel gagal.

Hoaem.

Ah di kasur. Ah masih gelap. Ya iya lah gelap, lampunya dimatiin. Ah cuma mimpi. Ah gak beneran donk rejekinya T_T.

Written by fusuysamid

19 August, 2010 at 2:57 pm

Posted in my day dreaming

Kesiangan

leave a comment »

Nama karakter : Cressida.
Pemeran : girl next door.

Untung lg tidur, kalo engga dah batal puasanya XD.

Written by fusuysamid

16 August, 2010 at 1:04 pm

Posted in my day dreaming

Morningmare

leave a comment »

Kami dahulu berteman dekat semasa hampir 3 tahun menjadi teman sekelas di SMP. Kami pun sempat membuat teman-teman kami bersyak wasangka bahwa kami berpacaran. Namun tidak demikian adanya, kami hanya teman biasa.
Ia cerdas, berparas manis dengan kulit coklatnya, dan berbadan tegap menggambarkan karakternya yang tegas. Sangat pantas untuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera. Aku menyukainya, demikian pula kedua orang tuaku.

Akhir keakraban kami dihelat dalam bentuk acara perpisahan SMP. Walau kami melanjutkan ke SMU yang sama, kami mengambil jalan yang berbeda : aku menolak untuk diikutsertakan dalam kelas akselerasi; tidak demikian halnya dengan dirinya. Ia pun akhirnya lulus satu tahun lebih dulu daripada diriku dan melanjutkan studinya ke salah satu universitas unggulan, yang nantinya bukan merupakan univesitas yang kupilih.

Singkat cerita, ia menyelesaikan kuliah untuk mendapat gelar sarjananya dengan sangat baik. Tidak puas dengan apa yang telah ia raih, ia melanjutkan studinya ke Eropa, sebagai bagian dari program Master yang ia ambil.

Waktu berjalan begitu cepat, aku telah sibuk dengan profesiku sebagai pelukis merangkap desainer. Aku tak pernah mendengar kabar apapun darinya, kecuali aku pernah mendengar kabar kepulangannya ke Indonesia. Hingga suatu hari seorang produser asing memintaku bekerja dalam proyeknya, sembari memberitahuku bahwa teman lamaku itu akan ikut juga dalam proyek itu, entah sebagai apa. Aku pun menyetujui untuk bergabung.

Produserku kali ini seorang asing, aku tak tahu dengan pasti kewarganegaraannya, namun dari dialek Inggrisnya yang mudah kumengerti, nampaknya ia tidak berasal dari Eropa; mungkin Amerika atau Australia. Berkulit bersih, dagu lancip, rambut ikal, pirang sebahu, dan badan yang atletis. Sekilas ia nampak serupa dengan penyanyi Michael Bolton di era ’90.

Proyeknya adalah penataan dekorasi di sebuah hotel baru di pulau yang dikenal dengan pariwisatanya. Dalam memimpin, ia sangat ramah, penuh senyum dan perhatian. Aku berada dalam tim ini untuk menjamin bahwa pernak-pernik dekorasi dan suasana yang diciptakan merupakan penggambaran dari kultur masyarakat di sekitar lokasi hotel. Teman lamaku tak kunjung muncul dalam proyek itu, hingga suatu hari.

Hari itu ballroom sedang penuh sesak dengan acara pesta sebagai bagian dari upacara topping out. Aku yang muak dengan keramaian itu menaiki tangga berputar menuju ke lantai atas dimana kamarku berada. Sepanjang koridor menuju kamar, sayup-sayup aku mendengar denting piano, memainkan lagu klasik yang telah lekat dalam ingatanku walau aku tak pernah mengetahui apa judulnya dan siapa penciptanya. Aku mengikuti sumber suara itu dan tertegun saat mengetahui bahwa suara itu berasal dari kamar produser. Suara piano itu seperti menghipnotisku dan tanpa rasa takut sedikitpun aku mencoba masuk. Entah mengapa pintunya tidak terkunci.

Di sudut ruangan itu, seorang wanita duduk membelakangiku, memainkan sebuah alat musik. Alat musik itu seperti gabungan dari piano dan harpa. ‘tuts’ dari piano itu tidak membentang dari kiri ke kanan seperti pada umumnya, namun tersusun meninggi searah dengan arah sang pemain menghadap, dari yang terdekat dengan pemain kurang lebih sejajar dengan perut, hingga yang terjauh, kurang lebih sejajar dengan mata. Tuts itu terbuat dari kayu, dan terlalu besar untuk ditekan dengan satu jari. Wanita itu lebih sering menekannya dengan empat jari, tidak menyertakan ibu jarinya.

Keherananku atas alat itu tidak seberapa dibandingkan ketakjubanku pada wanita yang memainkannya. Ia nampak masih tidak sadar bahwa ada orang lain selain dirinya di ruangan itu. Ia tidak mengenakan pakaian sehelaipun, hingga dari belakang aku dapat melihat lekuk punggungnya yang polos seputih susu dan rambutnya yang bergelombang berwarna hitam kemerahan. Sungguh sebuah karya seni Tuhan.

HEI!!“, sebuah suara laki-laki memergoki dari belakangku dan sukses mengembalikanku ke alam nyata setelah terhipnotis keindahan tubuh wanita itu.

Aku menoleh dengan panik ke belakang dan aku melihat sang produser sedang tersenyum melihat tingkahku. Nampaknya ia sudah lama berada di situ sembari menertawakan diriku yang terlena dengan sang wanita dan alunan musiknya. Ia hanya mengenakan handuk yang ia sarungkan di pinggang, layaknya seseorang yang usai mandi.

Masih dalam kepanikan aku menoleh kembali ke wanita itu, dan kali ini ia telah memalingkan wajahnya ke belakang, ke arahku. Wanita itu juga tersenyum, senyum yang sangat indah, namun aku yakin di balik itu ia sedang menahan tawa melihat aku yang tampak seperti pencuri yang tertangkap basah. Aku mencoba berpikir lebih jernih, dan akhirnya aku bisa mengenali wajah wanita itu. Aku tahu aku mengenalnya. Ia teman lamaku.

Ia berubah. Ia tampak sangat dewasa, sedang aku merasa seperti siswa SMP. Tak ada lagi kulitnya yang gelap dan eksotis, digantikan dengan putih pualam tak bertelau. Bentuk bibirnya sedikit berubah. Namun aku masih tetap mengenalnya.

Aku tertegun. Kupalingkan pandanganku ke arah jendela dan aku bergerak untuk melihat ke luar. Di bawah sana, di jalan raya di tepi sungai terlihat seorang hobo sedang berteriak-teriak dan mengangkat kedua tangannya. Entah apa yang ingin ia utarakan.

Aku ingin menangis sekarang.

Aku membalikkan pandanganku ke arah 2 orang di kamar itu. Sang wanita telah kehilangan senyumnya, nampaknya ia sadar bahwa aku tidak siap untuk bertemu kembali dengan dirinya dalam situasi seperti ini. Sementara sang pria juga nampak paham dengan keterkejutanku dan berbagai pikiran liar yang mungkin tercipta di benakku. Sang wanita bergerak dari tempat duduknya, berjalan melintasiku dan memberi tanda pada sang pria. Nampaknya ia ingin mengenakan beberapa pakaian. Sang pria berjalan mendekatiku, nampaknya ia akan berusaha menenangkanku.

Entah dari mana, pikiran kekanak-kanakanku muncul.

I’m out.“, kataku.

Hey, wait a minute..“, sang pria berusaha menahan. Ia tahu benar bahwa ancaman ini hanya tipuanku ke diriku sendiri yang sungguh sangat ingin menangis namun masih ingin terlihat tegar.

Kami beradu mulut, namun tak begitu lama dan juga tak penting.

Aku jatuh terduduk pada lututku. Terisak.

Sang wanita kembali menghampiriku. Ia mengenakan halterneck berbahan rajutan berwarna ungu. Mereka berdua nampak bingung, seperti menghadapi seorang anak kecil yang mengamuk sementara gula-gula tak dapat lagi digunakan sebagai penyumbat tangisnya.

Aku masih sesenggukan sembari menggumam tentang kisah pertemanan diriku dan sang wanita di masa lalu. Bahwa ia adalah seorang anak baik-baik, bahwa ia hanya pernah mencium pria 2 kali, tak lebih dari mencium di pipi, dan tak lebih dari 2 kali, dan aku bukanlah pria yang beruntung itu.

Sang wanita menggenggam tanganku, dan seketika aku merasa pasrah atas semua yang aku alami hari ini : It’s none of my business, it’s all theirs. Ia mengajakku keluar untuk mencari udara segar sembari berbincang selayaknya 2 orang sahabat yang telah lama tak berjumpa. Kami pun berjalan menyusuri pergola di taman yang berada di sisi dalam hotel. Kelap-kelip lampu taman tampak kabur dan badanku terasa melayang.

Ribuan pertanyaan berkecamuk dalam kepalaku dan semuanya diawali dengan kata tanya “mengapa”. Beberapa dari pertanyaan itu sampai di bibir dan akhirnya terucap. Sang wanita menjawab dengan santai, tentang hubungan dirinya dengan produserku (tentu saja dia mengatakan bahwa mereka hanya teman), tentang banyaknya laki-laki yang telah tidur dengannya, tentang umumnya hal demikian dilakukan dalam lingkup relasi kerja, dan tentang pentingnya memiliki dan menjaga banyaknya kenalan. Oke, tentang yang terakhir, aku sependapat, namun untuk hal-hal yang lain. . . Ah!

Aku terbangun. Hal yang pertama aku lakukan adalah melihat jam dinding. Pintu kamar terbuka lebar, sehingga aku dapat memastikan bahwa angka setengah duabelas yang ditunjukkan oleh jam dinding adalah setengah duabelas siang. Detak jantungku masih berdegup kencang sebagai efek kemarahanku pada sang wanita.

Alhamdulillah.

Aku pun membuka halaman Facebook di ponselku, dan memperbaharui statusku. 🙂

Written by fusuysamid

1 August, 2010 at 4:07 pm

Posted in my day dreaming

Enhanced, not enchanted

leave a comment »

1. Why does the screen of my television is not a flat one?

Tipi cembung

Tipi cembung

When I was young, I was asking my father about the strange and unnecessarily convex screen of my television. Actually, it’s not mine, nor my father’s. My uncle gave it to me as he listen my reason for not updating the news on television : I didn’t have any. My father then explained the technical reason behind the convexity. As a 10 years old boy, I got nothing about things he called diode, CRT, and that “shoot” word. Poor me.

Why should it be a convex? Why didn’t they make it a flat one?

Yeah, everyone dreams, but a few of them make it real.

James Fergason invented the LCD, and it makes flat screen television possible to be mass-produced. Research continues, and plasma TV was deployed. Eventually, in 2005, almost all televisions sold are now flat LCD and Plasma screens. Large screen Plasma and LCD TV’s are also well within the reach of the average consumer. Next, HDTV has successfully disguised as an actress named Scarlet. Whew..

People hates big, big is not beautiful anymore. Some of the televisions currently launched to the market are only a few inches thick. Even your cellular phone can now streams TV show. Hmm, things got smaller and cheaper. Thanks to technology for it.

2. Imagine a world where you can connect USB flash memory into a compo…

just plug your flash memory

just plug your flash memory

First time I saw the things called “flashdisk”, I adore its simplicity and compactness. Next, I become a witness of how USB port preside over all of the other kind of socket. It ranged from mouse, keyboard, printer, joystick for gaming, data cable for your cellular phone, until the power source for my notebook’s fan.

I was in my 2nd year of high school when I was dreaming about a world in USB frenzy. Imagine you can share data in your phone with your friend’s, using a cable with USB jack in both edges. (Sorry, no bluetooth available yet. Infrared was provided, but data transferring rate via cable always overcome the one that done wirelessly).

Then flashdisk got a 3.5mm miniature jack, and it improperly got a new title : mp3 player. Still, I it can’t be connected to a passive, large speaker due to huge battery consumption. Hmm, why don’t we make it possible to connect that “audio container” (not necessarily called “mp3 player”) into an active, large speaker? For sure, it can’t be done using that miniature jack. Instead of miniature jack, we should use the USB, since it gives faster speed and less resistancy. [Let’s do a little math, P= IR², isn’t it?]. So, just plug it, and boom boom.

And yeah, someone already make it real. That running flashdisk hit the glass wall while the compo is being sold.

3. Your eyes change its focus by flatter or thicker it lens, not by rearrange the distance of two or more lenses.

Everything I want to say is, imagine a camera with fluid lens(es), where each lens has an ability to accomodate, as our eye’s lens does. Maybe you can give me a real existence of such camera (or maybe another optical tool).

Written by fusuysamid

13 August, 2008 at 12:56 am

Posted in my day dreaming

Tagged with ,

DayDreaming #1 : A Diary

with one comment

Alright, this is my first post in this whole new blog. All of those my previous blogs have been diminished (and eventually deleted), since they just make me stuck in improving my writing skill (to be honest, I don’t have any).

Let me tell u a story about my most childish day dreaming : a diary.

Once upon a time, when I was in my 3rd year of elementary school, I was dreaming about starting a year with a book beside me. The book that will be a recorder for all my dreams. Every dream, any dream. No matter when it comes : in a dark night, or when a lecture was being delivered by my teacher.  The book that will be a witness to my non-sense prevision.

I wish, there will be no  more dejavu. No more “You know what, I’ve ever dreamt it! But alas, I’ve never told you about it”. Just make it simple : every time I wake up, grab a pen and the book, then write down the time, date, and your dream. Don’t be too perfect, just write down every part that I could remember, no worry about those missed parts.

But that book will never be at my side when I wake up. There’re no such book.

I won’t regret it, and I won’t forget it. And please just don’t think I will make a blog version of that book. There will be no such blog.

And it’s just a beginning, I’ll write a lot of my daydreaming here, but please, forget the idea that I will write all my dream in a blog. Sorry, I’m not a man with an USB slot in my bregma.

Written by fusuysamid

11 August, 2008 at 11:03 pm

Posted in my day dreaming

Tagged with